Skor Belajar Naik 6%, Ini Bukti Efektivitas Project-Based Learning di UPER

Metode belajar konvensional yang hanya mengandalkan buku teks kerap dianggap kurang efektif untuk memahamkan siswa pada isu-isu kompleks seperti transisi energi. Isu ini melibatkan banyak dimensi sekaligus, mulai dari teknologi, ekonomi, sosial, hingga lingkungan, sehingga siswa perlu dilatih untuk berpikir kritis dan menghubungkan berbagai sudut pandang, bukan sekadar menghafal definisi.

Menyadari hal ini, Universitas Pertamina menggagas program pengenalan transisi energi kepada siswa SMAN 1 Depok dengan pendekatan project-based learning (PBL). Program yang digelar dua tahap pada 22 Mei dan 19 Juni 2026 ini melibatkan dosen dari Program Studi Hubungan Internasional dan Teknik Logistik, dan dibiayai lewat hibah pengabdian kepada masyarakat internal kampus.

Hasil yang dicatat dari program ini cukup menarik untuk dicermati. Melalui evaluasi pre-test dan post-test, skor rata-rata siswa tercatat naik dari 84,2 menjadi 89,38, atau meningkat 6,15 persen setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran berbasis proyek. Peningkatan ini memperkuat temuan berbagai riset akademik sebelumnya, termasuk meta-analisis terhadap puluhan studi yang menunjukkan PBL secara konsisten berdampak positif pada capaian akademik, keterampilan berpikir, dan sikap belajar siswa.

Ketua tim program, Silvia Dian Anggraeni, yang juga menjabat sebagai dosen Hubungan Internasional UPER, menjelaskan bahwa proses belajar dalam PBL menjadi kunci keberhasilan pendekatan ini. Siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam berdiskusi, memilah data yang relevan, serta menyampaikan dan mempertahankan argumen berdasarkan bukti. Menurutnya, pengalaman semacam ini membantu siswa memahami persoalan energi secara lebih kritis dan dari berbagai perspektif.

Dalam praktiknya, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengembangkan proyek infografis mengenai isu transisi energi. Pada tahap presentasi akhir, sebanyak 16 kelompok memaparkan hasil kerja mereka di hadapan tim dosen UPER, dengan enam kelompok terbaik memperoleh apresiasi atas kreativitas dan kualitas gagasan yang mereka tampilkan.

Keberhasilan program ini turut mendapat perhatian dari jajaran pimpinan kampus. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyampaikan bahwa penguatan literasi energi generasi muda perlu diiringi kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan solutif. Semangat inilah yang mendorong UPER mengintegrasikan isu energi ke berbagai proses pendidikan, salah satunya lewat peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi pada Program Studi Hubungan Internasional.

Data peningkatan skor ini menjadi bukti nyata bahwa metode belajar aktif seperti PBL mampu menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dibanding metode belajar pasif. Pendekatan semacam ini juga mencerminkan bagaimana kampus dapat menjembatani teori akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Ingin belajar dengan metode yang mendorong pemahaman lebih dalam dan aplikatif seperti ini? Yuk, cari tahu lebih lanjut lewat Pendaftaran Universitas Pertamina dan mulai perjalanan akademikmu di kampus yang berkomitmen pada pendidikan berkualitas.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *