Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus, Analis: Jika Resesi Terjadi, Masyarakat Jangan Panik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia kuartal II 2020 terhadap kuartal II 2019 mengalami kontraksi atau minus sebesar 5,32 persen. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan kuartal IV juga kemungkinan masih mengalami minus. "Apabila perkiraan ini benar benar terjadi, maka Indonesia pada bulan Oktober nanti akan secara resmi dinyatakan resesi," kata Piter.

Menurutnya, pandemi Covid 19 membuat pertumbuhan ekonomi dipastikan negatif. Piter menegaskan resesi menjadi sebuah kenormalan baru, saat ini semua negara diyakini tinggal menunggu waktunya saja untuk menyatakan secara resmi sudah mengalami resesi. "Semua negara berpotensi mengalami resesi. Perbedaannya hanya masalah kedalaman dan kecepatan recovery. Negara negara yang bergantung kepada ekspor, kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tinggi akan mengalami double hit, sehingga kontraksi ekonomi akan jauh lebih dalam," terangnya. Piter mengimbau jika resesi benar terjadi masyarakat jangan panik. Dia bilang yang lebih penting bagaimana dunia usaha bisa bertahan di tengah resesi.

Apabila dunia usaha bisa bertahan, tidak mengalami kebangkrutan, maka Indonesia akan bisa bangkit kembali dengan cepat ketika wabah sudah berlalu. "Meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, masyarakat tidak perlu panik. Sekali lagi resesi sudah menjadi sebuah kenormalan baru di tengah wabah. Hampir semua negara mengalami resesi," ucapnya. Di saat seperti ini, pentingnya membangun rasa optimistis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, (Pemulihan Ekonomi Nasional).

"Kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan pulih pada tahun 2021," ujarnya. Pengamat Institute for Development of Economics (Indef) Bhima Yudistira mengatakan pemerintah tidak responsif dalam menangani pandemi Covid 19. Hal itu menyusul pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2020 minus 5,32 persen (year on year/ yoy).

Angka tersebut jeblok dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang tumbuh 2,97 persen (yoy) maupun dibandingkan kuartal II 2019 yang mampu tumbuh 5,05 persen (yoy). "Kalau kita lihat kuartal II ini cukup aneh. Masa pertumbuhan belanja pemerintah bias lebih rendah dari pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga," kata Bhima. Dia memandang harapan pemulihan ekonomi sejatinya berada pada tingkat belanja pemerintah untuk mendorong perekonomian RI.

"Tapi realitanya belanja pemerintah mencapai minus 6,9 persen secara year on year. Jadi ini salah satu penyebab kita dipastikan akan masuk pada resesi di kuartal III, karena belanja pemerintah tidak bisa diandalkan sebagai motor utama pemulihan ekonomi," tuturnya. Bhima menyampaikan ketika tingkat konsumsi turun dan investasi rendah seharusnya harapan ada pada belanja pemerintah untuk memulihkan ekonomi nasional. "Ini akan menjadi catatan serius, bagaimana belanja pemerintah itu ditahan bukan kemudian dicairkan, disaat saat genting seperti sekarang," ujarnya.

Lebih lanjut, Bhima melihat belanja pemerintah yang ditahan itu bisa dipicu masalah irokrasi, ego sektoral, atau inkompetensi dari pejabat. Pengamat milenial itu memandang perlunya perombakan total stimulus ekonomi agar pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan kuartal IV tidak kembali negatif. "Jadi sekarang bukan berbicara bagaimana supaya tidak masuk resesi. Itu sudah dipastikan. Yang penting sekarang mencari terobosan untuk pemulihan ekonomi," kata Bhima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *